Home » » HALTE BUS

HALTE BUS

     Suasana masih sepi, angin masih segar. Belum tercemari oleh polusi kendaraan yang berwara-wiri ria dijalanan. Juga belum tercemar asap pembakaran sampah yang setiap pukul enam pagi selalu dibakar oleh tukang sapu di pinggir jalan.
     Jalanan juga masih teralu sepi untuk beberapa bus jurusan 04 yang akan datang satu jam lagi. Hanya ada mobil pribadi yang beroprasi. Aku dan segelintir orang yang tengah menunggu bus di Halte Bus ini, tiba-tiba dikagetkan oleh seorang bapak-bapak berumur 40-an yang berlari kecil ke halte bus sambil membawa tas kerja yang didekapkan didadanya. Perawakannya wibawa seperti pengusaha kantoran yang hidup mapan.
     Pakaiannya rapi. Kemeja biru berlapis jas hitam dengan celana panjang hitam plus dasi hitam panjang yang diselipkan diantara kemeja dan jas. Penampilannya menarik perhatian semua orang yang ada di halte bus ini. Termasuk aku yang sedari tadi memperhatikan bapak kaya itu.
     Sempat tersemat dipikiranku, mengapa Bapak kaya itu menekatkan diri untuk menaiki bus yang aku yakin, baru pertama kali ini dia naik bus. Tapi mungkin, mobilnya lagi mogok, atau supirnya libur, atau mungkin Bapak pengusaha itu ingin menikmati serunya naik bus.
     Atau malah Bapak pengusaha itu ingin mengurangi polusi udara, sehingga memilih naik bus yang satu kendaraan ditumpangi lebih dari sepuluh, daripada naik mobil pribadi yang satu kendaraan bermuat tak lebih dari empat manusia.
Tampilannya yang rapi menarik perhatian semua orang yang ada di halte bus ini. Maklumlah, mana ada jaman sekarang orang kaya yang naik kendaraan umum. Lihat saja artis sekarang ini, kalo nggak BMW ya, minimal Honda Jazz. Paling mareka pernah naek motor, sepeda ato malah bajaj, ketika syuting, tentunya.
     Atau kalau mereka kepepet, seperti Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang terjebak macet, lantas ia naik motor harleynya  Pak Polisi yang ngawal dia. Bapak pengusaha ini kepepet juga tentunya. Syukur-syukur ia sadar akan pentingnya kesegaran udara di Semarang ini yang mulai pengap.
Seorang pedagang asongan tak kuat menahan hasrat untuk menawarkan barang dagangannya. Berharap Bapak kaya itu akan membeli salah satu dari dagangannya. Entah tisu untuk menghilangkan keringat biji jagung yang menetes didahi Bapak kaya itu, atau menawarkan minuman dingin pelepas dahaga Bapak kaya itu yang terlihat sangat sesengal untuk bernafas. Atau untuk sekedar menawarkan permen sebagai pengganjal perutnya yang subur.
     “…” Pedagang asongan tak bersuara, hanya menyuguhkan sekotak rokok yang lupa aku sebutkan untuk orang kaya jaman sekarang, yang tak bisa hidup tanpa menyumpal mulutnya dengan sejumput tembakau dengan lilitan selembar kertas beraneka rasa.
     Awalnya Bapak kaya itu hanya menengokkan kepalanya untuk melihat dagangan  pedagang asongan itu, tapi akupun tak menyangka akan jawaban, “Saya nggak biasa…”
Bagus, seorang Bapak kaya yang berkehidupan layak dan mapan, tidak merokok. Hebat, pikirku.
     “…ngomong sama orang yang baru saya temui. Bisa saja kamu mau mencopet saya? Atau lebih parahnya, kamu mau menghipnotis saya dengan sekali colek?”
     Kata orang Jawa Cep Klakep, yang artinya diam seketika.
     Melihat dan mendengar peristiwa itu membuat kami, terutama aku (yang telah berpikir ‘wah’ kepada Bapak kaya itu) diam seketika. Semua orang di Halte Bus ini bingung sekaligus takut..
     Mungkin saja disekitar kami ada segerombolan bodyguard yang bertubuh kekar dan berparas sangar siap menerkam seseorang yang mengganggu Bapak pengusaha itu. Atau mungkin yang lebih parahnya lagi, Bapak kaya itu adalah seorang mata-mata teroris yang ingin menghacurkan seonggok Halte Bus kecil dan reot ini bersama para penghuninya, segelintir manusia pribumi yang ingin menuju tempat tujuannya dengan selamat..
     Tapi mana mungkin dia seorang  mata-mata teroris. Kami tak melihat sekotak bom waktu yang siap meledak dalam hitungan detik, ataupun geranat yang menggembung di saku celananya.
Kami  juga tak yakin jika Bapak kaya itu membawa Bodyguardnya untuk melindunginya. Toh, tak ada sejumput orangpun yang bertubuh kekar dan bertampang sangar disekeliling Halte Bus yang sepi ini. Hanya ada kami sang penunggu bus, dan seorang bapak penyapu jalan diseberang jalan.
     Satu-satunya yang bertubuh kekar adalah dia, si preman yang sedang bersandar ditiang depan Halte Bus sambil terus memperhatikan Pak Haji yang berada disebelah kirinya dengan mata menyelidik mirip detektif. Dari ujung kaki sampai akar rambut yang nggak kelihatan karena ditutupi dengan pecis putih, ia perhatikan, sampai-sampai ia mengusap kepalanya yang botak dengan tangan kanannya yang penuh dengan tato naga warna-warni. Jenggot putih panjangnya Pak Haji juga ia perhatikan, sampai-sampai ia mengelus dagunya yang hanya ada brewok pendek nan tajam.
     Atau mungkin si preman ingin meniru gaya Pak Haji yang wibawa dan bijaksana. Syukur-syukur si preman insap dan menuju ke jalan yang benar untuk melakukan tindakan yang positif.
Ada juga seorang mahasiswi yang memakai jas kuning, berdiri disamping kiriku. Tak mungkin jika ia adalah bodyguard-nya Bapak kaya itu. Dia hanya seorang cewek cantik nan feminin yang selalu melihat lurus kedepan. Bukan karena menanti kedatangan Bus yang sudah jelas tertera dijadwal keberangkatan akan datang 15 menit lagi, tapi dia melihat  mahasiswa yang berjas sama dengannya. Mungkin mahasiswi itu ingin mengajaknya barangkat bersama, atau hanya sekedar bertegur sapa tentang pelajaran yang jelas-jelas telah dikuasainya dengan baik.
     Juga Ibu hamil dibelakangku yang sedang duduk bersebelahan dengan seorang Ibu yang tengah menggendong anak laki-laki kecilnya yang sehat. Tak mungkin juga kalau kedua Ibu-ibu itu melakukan tindakan yang diluar batas kekuatannya. Lagipula mereka tak saling bertatapan, ngobrolpun tidak. Mana mungkin mereka berkomplot sebagai bodyguard.
     Ibu hamil itu selalu saja melihat, lebih tepatnya mengamati anak kecil sehat itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mungkin Ibu hamil itu ngin bertanya bagaimana merawat anak kecil sampai sesehat itu. Mungkin juga karena Ibu hamil itu masih muda, jadi ia ingin berkonsultasi dengan ibu disebelahnya itu yang kira-kira berumur 30an dan sudah berpengalaman..
     Atau jangan-jangan pedagang asongan yang sedari tadi mengawasi setiap gerakan Bapak kaya itulah bodyguardnya? Tapi mana mungkin pedagang asongan yang badannya berkebalikan dengan badan Bapak pengusaha yang bertubuh gempal itu dijadikan bodyguard oleh Bapak kaya itu.
Setiap gerakan dari Bapak kaya itu, selalu diperhatikan pedagang asongan itu. Mungkin pedagang asongan ingin bertanya bagaimana menjadi subur seperti Bapak kaya itu. Lihat saja badan pedagang asongan yang kurus itu. Seperti angka sepuluh jika pedagang asongan dan Bapak pengusaha itu berdampingan.
     Atau mungkin juga pedagang asongan ingin menjadi pria kaya seperti Bapak pengusaha itu. Memakai jas dan celana bermerek, juga aksesoris dasi yang bermerek internasional. Bukan hanya memakai baju tembelan, celana selutut yang kumal dan menenteng tas kerja berisi tisu, rokok, permen, dan air minum.
Yang tersisa hanya aku dan si dia. Seorang cowok setengah bule setengah indo yang selalu kupandang secara diam-diam. Tapi tak mungkin dia, apalagi aku. Aku hanya seorang gadis SMA yang sedang menunggu bus untuk mengangkutku kesekolah.
    Dan cowok tampan disebelah kananku ini, ia begitu sopan. Pakaiannyapun rapi dan bersih. Aku sadar ia juga melirik kearahku. Berusaha untuk mengajakku berkenalan. Atau mungkin ia melihat ada jerawat setinggi Himalaya yang bertengger manis dipipi kananku? Oh, tidak.
Tapi yang pasti, ia tak mungkin seorang Bodyguard yang siap memukul pedagang asongan yang dari tadi terus mengamati Bapak kaya itu. Cowok ini yang paling aku yakini 100% tak mungkin bodyguard, apalagi teroris. Hahaha…
Bapak kaya mulai resah akan bus yang ditunggunya, lebih tepatnya kita, belum nongol juga. Secara jam ditanganku masih menunjukkan pukul enam limapuluh. Itu tandanya kurang sepuluh menit lagi. Dan kami semua yang ada disini tak sepatah katapun berucap sesuatu yang kami inginkan.
     “Bus sialan! Datang kok ngaret. Nggak tahu apa kalo saya ini orang penting diperusahaan saya? Dasar supir bodoh!” umpatnya kepada supir bus yang masih belum datang.
     “Mungkin ada demo kali, pak? Lagian belum waktunya datang, pak.” jawab pedagang asongan yang masih tetap peduli meski dicuekin beberapa kali.
     “…” diam.
    Bapak kaya itu masih tak peduli. Menghentak-hentakkan kakinya kelantai untuk mempercepat waktu. Ia mencari sesuatu didalam tas kerjanya. Dikeluarkannya sebuah map merah dan mengecek dokumen-dokumen penting didalamnya.
     Waktu kurang lima menit tapi bus datang dan berhenti tepat didepan Halte Bus. Pintu belakang bus dibuka. Bapak kaya itu dengan segera langsung masuk kedalam bus. Menghentikan kaki Pak Haji yang akan melangkah masuk. Selembar dokumen jatuh. Bapak kaya tak tahu soal itu.
     Si preman masuk dan bertengger disamping pintu untuk membantu kami yang akan naik kedalam bis yang tingginya kurang lebih setengah meter. Pak Haji naik dengan bantuan si preman. Kakak mahasiswi kemudian kakak mahasiswa. Dan tiba giliranku, aku berniat mengambil dokumen itu dan mengembalikannya ke Bapak kaya itu. Syukur-syukur kalau ia berterimakasih padaku.
     Setelah berada didepan pintu bus, aku hampir membungkuk untuk mengambilnya, tapi anak kecil sehat dibelakangku merengek minta cepat naik kedalam bus. Dan si preman sudah mengulurkan tangannya untuk membantuku naik kedalam bus yang pintu masuknya tinggi.
     Aku segera masuk dan mengambil duduk dikursi paling belakang, agar aku bisa melihat tulisan apa yang ada dikertas itu. Namun kaki Ibu anak yang sehat, kaki Ibu hamil, pedagang asongan dan kaki Cowok tampan itu menutupinya.
     Hingga mereka semua masuk, dan sebelum pintu bus ditutup, si preman turun karena melihat nenek tua yang jalan membungkuk ingin naik bus ini. Si preman berlari kemudian manuntun nenek tua. Pak supir dengan sabar menunggu nenek tua dan si preman itu.
     Karena ada kesempatan, aku menyempatkan diri untuk turun dari bus dan mengambil dokumen pentingnya Bapak kaya. Si preman dan si nenek tua yang dituntunnya sudah tiba dan mereka masuk ke bus setelah aku kesulitan naik karena tingginya pintu. Untung cowok tampan itu menarik tanganku.
     Waaahhh….betapa senangnya hatiku ><
     Didalam bus yang perlahan berjalan semakin cepat, aku bisa merasakan kesunyian yang pecah diantara mereka, Ibu hamil yang berhasil mencubit gemas pipi gembul anak berbadan sehat disebelahnya. Si preman berbicara sopan kepada Pak Haji yang mulai mengeluarkan jurus berdakwah kultum. Mahasiswi dan mahasiswa juga sudah mulai membuka buku untuk berdiskusi. Dan aku… aku dan cowok tampan disebelahku sukses berkenalan gara-gara selembar kertas dokumen Bapak Kaya yang tadi aku pungut. Kita membaca dokumen itu bersamaan. Dan tercenung juga tertawa bersamaan sambil memandang Bapak Kaya yang sibuk mencari sesuatu didalam tasnya.
     Pedagang asongan masih berharap akan mendapat petuah jika berbicara dengan Bapak kaya. Siapa tahu pedagang asongan dapat menjadi kaya seperti Bapak itu.
     “Heh orang miskin. Kenapa kamu selalu mengganggu saya? Saya risih tau!” omel Bapak kaya itu kepada pedagang asongan.
     “Ya, saya kan cuma ingin jadi kaya seperti Bapak.” Jawabnya cempreng.
     “Sulit tau, jadi seperti saya. Lagian juga kamu…” Bapak kaya itu mengamati pedagang asongan itu dari atas sampai bawah, “…nggak pantes jadi orang kaya seperti saya.” Lanjutnya PD
     Semua orang melihat pedagang asongan itu murung, sedih, tapi kemudian pedagang asongan itu kembali menjajakan barang dagangannya didalam bus ini yang mulai terlihat semakin sesak.
Aku dan cowok ganteng yang ternyata bernama Dion, hanya tersenyum dalam hati melihat kejadian itu.
     Bapak kaya masih mengobrak-abrik dokumen-dokumen yang ada ditas kerjanya. Ia terlihat bingung dan mencari-cari sesuatu. Apakah dokumen Surat Lamaran pekerjaan yang Anda cari, Bapak sok kaya? Tanyaku dalam hati kepadanya. Tentu saja dia tak mendengarnya.
Dan aku, tersenyum mengingat kesombongannya.



By : Novi Fransiska

Bagikan Cerita ini :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar